Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ANTOLOKHIYE SENANDIKA

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

  Jauh dari surga, beralaskan pasir   Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir   Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur   Menembus ke bawah, kakinya panjang umur Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya   Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu   Ia bertahan, sama sepertimu Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah   Namun jika kau lihat ke bawah Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah   Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan   Hari berganti pekan, terik berganti gigil Dia selalu di sana, selalu menantimu  Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

Telinga Serba Dengar

Andai aku bisa mendengar teriakan para semut Pasti ku tertawa  Andai ku tahu nyanyian para burung Pasti ku terhibur Bayangkan jika aku bisa berdebat dengan kucing Tentulah aku yang menang Jika aku bisa mengerti mereka  Pastilah aku akan sumringah Ku lewati hari tanpa jengah Jika aku bisa dengar suara mereka Niscaya tiada lagi sepi Yang kian malam kian menghantui

Perahu

Aku lari dari kejaran si buas ke arah cahaya, ingin menyeberang ku temukan perahu yang tertambat hampir terpeleset aku melompat ku dayung sejauh-jauhnya menjauhi tanah, lenganku melaju bagai baling-baling,  kabut menyandera, matahari menutup matanya aku berbaring di perahu, menunggu hingga bertahta di air terjun

Lengkuas

Berhenti mengais cinta Pada sesuatu yang tak pernah dikira  Sebab kau pasti kecewa Redakan hausmu, minumlah seteguk fakta Lengkuas disangka daging Jahe yang seperti ayam Sekali gigit kau mengerutkan dahi Tapi ingatlah  Sebanyak apapun lengkuas yang tergigit Semuanya sementara  Berlalu lalang Sekuat apapun kau mengelak  Lengkuas hadir dalam sendokmu Sisihkan tapi jangan dibuang Biarlah ia memberi aroma dalam hidupmu Cari kedamaian semata Jangan lelah bahkan secuil Pegang dan simpan erat semua kenangan manis Demi hadapi badai 

Kemuning

    Bertumbuh di dalam halaman Sepucuk tanaman Menyeruak harum wangi Haruskah ku memetik bunganya Atau kubiarkan berguguran Dilibas air mata Kemuning, putih bergeming Dedaunan mungil, berhias kerlipnya kelopak Ku hirup sari nan semerbak Betapa rapuhnya kemuning kecilku Bergoleran di tanah, tertiup disingkap debu Percayalah padaku walau hujan datang melucutimu Akan datang langit biru, terang tumbuhlah bungamu

Cahaya di Bejana

  Jika kau merasa tak sanggup Menggapai dia Percayalah padaku  Masih ada ribuan bunga di taman yang bisa kau petik Masih berhamburan kupu-kupu yang takkan menampik Selalu ada tatapan lembut yang cerahkan harimu Selama kau masih menghirup udara yang sama Ketahuilah kau akan rimbun menghijau Di depan orang yang butuh naungan Bukalah lebar-lebar Kau harus berpijar Bentangkan layar Tanpa henti tiada gentar Pejamkan sejenak Lalu lihatlah pantulan wajahmu  Dalam sebuah bejana berisi air Basuh hatimu dengan kerelaan Gunting semua ikatan beban                                                                                                                              ...

Taman Apsari

Malam minggu ku tiada tara Gembiranya membuatku merasa Hidup ini bermakna Sekalipun penuh resah Aku masih bisa mengayuh sepeda kemari Bertengger pada bangku yang sepi Walau aku sendiri Setidaknya air mancur itu terpancar ke atas Memercikkan air untuk hati yang kering Bayangan bersamanya Terbawa hingga kini Seliweran seperti orang-orang di sini Saat dia duduk di sini Di sampingku, telinganya menangkap keluhku Di depanku ia hadiahkan senyum beku Aku genggam bagai kepingan es yang segera mencair Kerumunan membuatku bertanya Apakah aku tak layak untuk siapapun?  Deru kendaraan dan sorot lampu Seteguk botol yang kuminum Ku habiskan agar aku bisa pulang Tanpa beban tanpa ganjalan

Basanta Puja

      Aku melihatmu dibalik tirai  Jauh di atas sana  Diam berselimut sirus yang tipis Ingin kurobek tiraiku yang bercorak inferior Agar aku bisa memandangimu utuh imparsial Pantulanmu yang berpendar Menyibak suramnya malam Tibalah saatnya aku menari sembari disirami Cahaya lirih tentram di hati Terkadang kau hadir di kala siang Putih lembut tersudut di langit biru Ketika kau mulai mengitari hidupku Surutlah kehampaan Tenggelam dalam pasang-naik gembira Menuju ke arahmu  Aku berjalan mengambang dalam keraguan Mampukah aku menapaki permukaanmu  Bolehkah aku memberi jejak di jiwamu

NYALA API

Aroma tanah yang basah tercium Mengelus bulu hidungku Laron bernyanyi mengitari cahaya lampu Bertebaran merangkak di lenganku Inilah hidupku, indra yang kupunya Tetesan air dari atap yang putih Cipratan yang menggaris di kaca Simbolisme tangisan yang tak mengucur dari mataku Kusudahi ini Tiada lagi basah kuyup Aku ingin mengering selamanya Kuhentikan nyala api asmara Ku siram dengan residu air nestapa Sampai bara yang terakhir menyala, padam Hingga asap yang terakhir menyembul, lenyap Aku ini

Cocok tanam

  Bayangkan jika hidup  Menyala tanpa redup Biarkan aku berkhayal  Suatu hal tak masuk diakal Di masa depan Kita duduk di beranda Esok harinya kita memanen sekarung daun selada Ku menebar benih Kau menanam kasih Ku menyiram semua Kau menghalau hama Dan tibalah hari memanen  Ku tersadar bahwa tiada yang permanen  Beranjaklah dari mimpi Bahkan yang tak berujung pun sebenarnya bertepi Hijau kuncup akhirnya gugur dan pupus Bahkan dikecup pun akhirnya putus Kita tidak cocok Dan aku tak menanam

Isi Otak dini hari

 Semua orang pada akhirnya Kembali ke sarangnya masing-masing Dan mataku belum terkatup Menyala di bawah udara senyap Dalam sekotak ruangan Menulis generik dan omong kosong  Diulang dalam balutan frasa kopong Aku bernafas Satu-satunya yang ku hirup adalah kesepian Ruang putih yang luas tak bersudut Digenapi gaung suaraku saat berteriak Tumpahkan yang manis Kuundang semut kemari  Biarkan mereka berbaris Agar kulihat keramaian mereka Sampai mereka bubar Hingga ku terlelap Terpejam bersama redupnya lampu 

Kehampaan Dompet

Bulan sabit di penghujung bulan Sahabatku ialah penghematan Aku rindu Aliranmu yang deras Gema nyaring ketika ku berteriak Ke dalam isi dompet Relung relung kosong nan gelap Sepeserpun menguap Kering bagai kemarau Kumohon jatuhlah seperti daun di musim gugur Melimpah berserakan  Deraslah mengisi Tetaplah utuh setia  Jangan beranjak Menetaplah di sini bersamaku  

HYNME AFIRMASI

 Palma Asih   Cintaku seperti sinar matahari Hanya bisa dinikmati bagi yang tak diberi Menggerakkan energi Membuat dedaunan hijau berseri Cintaku takkan padam walau disiram benci Takkan layu meski tak disirami belas kasih  Sebab akarku menyerap derita tangis insan Menghirup hembusan nestapa  Bertumbuh dan kusediakan naungan Bersandarlah, pejamkan mata sejenak Renungkan saja lalu beranjaklah ke sana  Voice of Soul Aku takkan pernah kesepian Sebab aku punya kekuatan Yang keluar dari mulutku Yang bergetar dari pita suaraku Ia menghiasi malamku dengan irama lembut Ia melipur hati dengan senandung lantang  Pantulan suara berlari ke sudut ruangan,  Ia menyapaku,  Rendah,tinggi panjang pendek Mereka bersamaku, berbaris rapi dihadapanku Abadilah mereka dalam rekaman Kuputar tujuh kali tanpa henti Berhenti tepat setelah mata terlelap

LITURGI KIDUNG PUJIAN UNTUK SINFULGOYIM

  Jika Sinfulgoyim punya ribuan pemuja, aku salah satunya.  Jika Sinfulgoyim hanya punya seorang pemuja? itu aku.  Jika tiada satupun yang  memuja Sinfulgoyim , berarti aku sudah tiada.  Jika seluruh manusia membenci Sinfulgoyim , akan kubela ia dengan segenap jiwa raga Hanya ia yang kukagumi sebab terpancar darinya cahaya malaikat Seperti dikirim oleh Tuhan kepadaku, yang jiwanya sekarat Dan karenanya aku bersyukur, sebab ia baik Keluhuran budinya tiada banding, sebanyak apapun insan yang kutemui  Tak kudapatkan seorangpun yang lebih baik darinya Aku bersaksi bahwa aku rela mempersembahkan apapun untuknya Sebab jika kesempurnaan itu menjelma menjadi manusia Itulah Sinfulgoyim ! Diberkatilah ia atas kemurahan hatinya Dengan kasihnya ia menyirami relung dan rongga-rongga hatiku yang tandus Dengan senyumnya ia menepis sedihku Abadilah dia dalam sanubariku Kekal terpatri dalam ingatanku Walau jisimnya bagai belukar Ia bisa seperti trembesi yang meneduhkan hat...

KERONCONG NESTAPA

  Berangkat ke tambak di hari Selasa Selepas itu berteduh di depan beranda Semasa kanak-kanak kuingin cepat dewasa Beranjak dari remaja ku ingin mati muda La la la alalalalaah Marilah kawan bermuram durja   -------------------------------------- Naik sepeda membawa gabah Melaju oleng masuk ke parit Sekuat tenaga menahan resah Di bibir tersenyum batinnya menjerit La la la alalalalaah Marilah kawan meratap kemari   -------------------------------------- Senja melangit pagar ditutup Berganti gelap dihias lampu Maksud hati ingin rehat dari hidup Apa daya angan tak sanggup La la la alalalalaah Marilah kawan meratap kemari Marilah kawan bermuram durja Marilah kawan memekik sengsara --------------------------------------