Langsung ke konten utama

HYNME AFIRMASI

 Palma Asih

 

Cintaku seperti sinar matahari

Hanya bisa dinikmati bagi yang tak diberi

Menggerakkan energi

Membuat dedaunan hijau berseri

Cintaku takkan padam walau disiram benci

Takkan layu meski tak disirami belas kasih 

Sebab akarku menyerap derita tangis insan

Menghirup hembusan nestapa 

Bertumbuh dan kusediakan naungan

Bersandarlah, pejamkan mata sejenak

Renungkan saja lalu beranjaklah ke sana


 Voice of Soul


Aku takkan pernah kesepian

Sebab aku punya kekuatan

Yang keluar dari mulutku

Yang bergetar dari pita suaraku

Ia menghiasi malamku dengan irama lembut

Ia melipur hati dengan senandung lantang 

Pantulan suara berlari ke sudut ruangan, 

Ia menyapaku, 

Rendah,tinggi panjang pendek

Mereka bersamaku, berbaris rapi dihadapanku

Abadilah mereka dalam rekaman
Kuputar tujuh kali tanpa henti

Berhenti tepat setelah mata terlelap



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

  Jauh dari surga, beralaskan pasir   Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir   Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur   Menembus ke bawah, kakinya panjang umur Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya   Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu   Ia bertahan, sama sepertimu Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah   Namun jika kau lihat ke bawah Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah   Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan   Hari berganti pekan, terik berganti gigil Dia selalu di sana, selalu menantimu  Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

SEPEREMPAT ABAD

Seperempat abad aku hidup di alam fana Bagaikan enam jam di rumah rasanya Pantaslah kau tak izinkanku berkelana Sebab kau memang hanya sebentar saja Menjadi bagian dalam kisahku di babak pertama Sementara Ku terhuyung-huyung untuk selalu tetap Berada di jalur yang semestinya  Harus kuhabiskan bergerak ke depan Membuka cobaan yang tertutup hari esok Tanpamu Hilangnya kesempatanku, berbakti padamu Kini telah sampailah di ujung  Dimana aku hanya bisa mengingat segala tentangmu Memeluk erat menyimpan rapat Kaleng dan laci yang berisi semua Bukti-bukti abadi bahwa engkau  Di masa itu jadi matahari di kala siang Air di kala kering, dan nafas di kala aku sesak terhimpit Terpujilah engkau

Berlalu

 Pernahkah kau duduk di samping jendela Di dalam kendaraan yang melaju Semua berlalu begitu saja Ribuan pagar dan pohon yang berjajar Sebuah gunung yang terlihat dari jauh Membuatku merenung Awan yang berbaris Menyuruh bibirku tersenyum tipis    Semuanya baik-baik saja    Badai takkan lama   Asalkan kau terus merangkak ke depan Suatu saat gelap akan lelah memberimu selimut Terang benderang akan menarikmu dari sumur  Yang kau kira tempat ternyaman Ingatlah ketika palang pintu mulai menutup Tunggulah sebentar Dengarkan irama sirine parau Bukalah mulutmu, nyanyikan marahmu