Langsung ke konten utama

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

 


Jauh dari surga, beralaskan pasir

 Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir

 Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur

 Menembus ke bawah, kakinya panjang umur

Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya

 Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu

 Ia bertahan, sama sepertimu

Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa

Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah

 Namun jika kau lihat ke bawah

Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah

 Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan

 Hari berganti pekan, terik berganti gigil

Dia selalu di sana, selalu menantimu

 Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMANG SUDAH SAATNYA

Siapa yang bisa menyangka Kukira engkau hanya tidur sementara Inilah hari ketika aku tak sanggup Berdiri tegap menatap Tibalah masa Saat aku tak lagi bisa Memandang hujan dengan cara yang sama Menata rapi seperti yang kau pinta Melihatmu terlelap dan tetap bernafas Telah kucatat semua hal-hal terakhir yang kau tunaikan Sudah kubaca resep yang telah kau tinggalkan Ku coba memeluk erat semua kepingan Hidupku seperti tenggelam, dan aku mengambang dalam kelimpungan Mengais-ngais ranting ku coba untuk menggenggam Seperempat abad bersamamu di dunia Terasa lebih berharga daripada emas seluas benua Kasihmu berpijar dan melekat di jiwaku Ku halangi waktu dari merenggut suaramu Dan telah ku lapangkan memori agar kau abadi        

SEPEREMPAT ABAD

Seperempat abad aku hidup di alam fana Bagaikan enam jam di rumah rasanya Pantaslah kau tak izinkanku berkelana Sebab kau memang hanya sebentar saja Menjadi bagian dalam kisahku di babak pertama Sementara Ku terhuyung-huyung untuk selalu tetap Berada di jalur yang semestinya  Harus kuhabiskan bergerak ke depan Membuka cobaan yang tertutup hari esok Tanpamu Hilangnya kesempatanku, berbakti padamu Kini telah sampailah di ujung  Dimana aku hanya bisa mengingat segala tentangmu Memeluk erat menyimpan rapat Kaleng dan laci yang berisi semua Bukti-bukti abadi bahwa engkau  Di masa itu jadi matahari di kala siang Air di kala kering, dan nafas di kala aku sesak terhimpit Terpujilah engkau