Andai air mataku sewangi bunga melati Tentu aku sudah menempelkan tabung di wajahku Setetes demi setetes Aku peras tangisku, seperti minyak atsiri yang diambil Akan ku percikkan ke tanah Yang di bawahnya terbaring orang yang paling terkasih Andaikan raungan sedihku semerdu kicauan burung Tentu sudah kurekam dan kuputar di ujung peristirahatannya Namun aku hanya bisa mengerang kesepian Bersandar di kursi pesakitan Andai tetesan itu menjadi hujan Tentulah cekungan kosong terisi menjadi danau Dan aku membenamkan diriku dalam pengandaian Jika begini jika begitu Berapa besarnya duka yang dibebankan padaku Tetap kupikul aku redakan dengan kerelaanku
Blog ini agak random jadi kalian bisa menganggap ini sebagai bentuk digital dari alam pikiranku