Langsung ke konten utama

BAGAIMANA JIKA JAWA BUKANLAH KUNCI?

 

Beberapa kali aku berpikir apa jadinya jika persebaran penduduk Indonesia jauh lebih merata dari sekarang?

Aku menghitung secara kasar bahwa  lebih dari 30 juta jiwa bisa berpindah ke luar Jawa demi pemerataan ini. Darimana aku bisa mendapat angak tersebut? yakni dari komposisi etnis dari 6 propinsi di pulau Jawa. Aku beberapa kali di media sosial menyayangkan program transmigrasi. Seharusnya orba fokus membuat aglomerasi baru di luar Jawa, agar semuanya bisa menjadi lebih sejahtera. Di samping itu, pemerintah harus mengawasi pelabuhan dari "serbuan' perantau yang ingin mengadu nasib di pulau Jawa. Mungkin ini terdengar agak otoriter, namun ini jauh lebih adil dan tidak menimbulkan dampak sosial yang besar serta mengurangi potensi konflik horizontal di masa depan antara pendatang dan pribumi. 

 Hmm sudah terbayang berbagai macam alternatif di kepalaku Bagaimana dengan kalian?

Oh iya satu lagi bagaimana kalau kegiatan ekonomi juga tersebar di 7 bagian Indonesia? Tentu porsi PDB Jawa tidak sebesar sekarang? Mari berandai-andai

Wilayah Sumatera punya banyak kota yang bisa dikembangkan, seperti Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Batam, Palembang, Bengkulu, Jambi dan Lampung, wait Pangkalpinang? Dari yang sudah aku sebutkan 6 diataranya punya pantai, jadi kalian sudah bisa menebak bukan apa yang seharusnya dilakukan.

Aku juga sudah membayangkan kalau Indonesia saat ini 3 kali lebih kaya dari sekarang, mungkin sudah ada jalur terpadu Banda Aceh-Sigli-Birueun, Binjai-Medan-LubukPakam-Tebing Tinggi-Tanjung Balai, Dumai-Pekanbaru, Sibolga-Tarutung, Padang-Solok/Padang-BukitTinggi, Bengkulu-Kepahiang-Curup, Palembang-Lampung-Bakauheni. Mungkin kita harus membuat deepwaterport di beberapa titik? Terserah kalian, ini hanya berkhayal. Oh iya mungkin kita harus membuat jalur kereta api di Sumatera dan mengaktifkan peninggalan colonial Hindia Belanda.

 

 

 

 

 

 

 

Kita lanjut ke Kalimantan, kita bisa membuat aglomerasi baru di Kalimantan Barat seperti Pontianak-Mempawah-Singkawang-Sambas. Lalu di Kalimantan Tengah juga ada beberapa kota yang mungkin cukup menjanjikan seperti Palangkaraya-PulangPisau-KualaKapuas, lalu berlanjut ke Kalimantan Selatan seperti Banjarmasin dan Banjarbar. Sedangkan untuk Kalimantan Timur kita punya Bontang-Tenggarong-Samarinda-Balikpapan. Bagaimana dengan Kalimantan Utara? Butuh waktu yang lama untuk memakmurkan wilayah tersebut. Hmmm jika saja kita bisa melakukan sesuatu yang lebih dahsyat dari menanam sawit dan menggali batu bara.

 

 

 

 



Mari kita bayangkan jika negeri ini sesuai dengan skenario buatan saya 
Mungkin kita bisa menghamburkan uang untuk

Jalur BRT/MRT/Tram di kota Medan, Palembang, Makassar, Batam, Bandar Lampung, Pekanbaru, Denpasar, Manado, Samarinda dan Balikpapan

321 km jalan tol di Sumbar
161 km Sibolga balige

65 km medan kabanjahe

65 pekanbaru pelalawan

Pekanbaru dan Siak Sri Indrapura adalah sekitar 90-100

Bengkulu dan Arga Makmur diperkirakan sekitar 120-130 kilometer

Bengkulu dan Curup diperkirakan sekitar 240-250 Palangkaraya dan Banjarmasin adalah sekitar 270-300 kilometer Samarinda dan Bontang adalah sekitar 140-160 Makassar dan Pare-pare adalah sekitar 155-170 kilometer Pontianak dan Sambas adalah sekitar 160-180 kilometer Kolaka dan Kendari adalah sekitar 225-250 kilometer Manado dan Tomohon adalah sekitar 25-30 kilometer 8 pelabuhan petikemas baru dan 2 deep seaport.

7 Bandara baru

pembangunan 2 PLTN baru dan 3 PLTGeotermal

Pembangunan pangkalan militer "terpadu" di Kepulauan Natuna Halmahera dan Kepulau Tanimbar

Instalasi pemanen air hujan di setiap bangunan instansi pemerintahan

Jika kita bersungguh-sungguh tidak menjadikan Jawa sebagai kunci. Sungguh Indonesia yang kita tempati sekarang berbeda dan tak pernah dirasakan sebelumnya

Komentar

  1. Masalah utama Indonesia sekaligus potensi terbesarnya itu satu: wilayahnya terlalu besar. Mungkin (cuma mungkin aja) satu-satunya model pembangunan yang bisa dicontoh itu ya Tiongkok, dengan segala percepatan industri yang terlalu cepat, serta dengan bubblenomics yang beresiko tinggi dan sarat akan skema piramid. Untuk US saja butuh sekurang-kurangnya 235 tahun buat industrialisasi, karena wilayahnya yang sebesar itu ditambah dengan masalah sosial politik yang terus bermunculan. Kita harus mencari model pembangunan baru yang sesuai dengan ciri kita sendiri, dimulai dari model institusi politik yang cocok buat kita, disusul dengan pola perekonomian, dsb. Hal ini menjadi dibutuhkan, karena Indonesia itu negara yang sangat besar dan sangat heterogen, tidak bisa diperbandingkan dengan negara-negara lain dengan wilayah kecil serta kebanyakan homogen. Konektivisasi serta pembangunan masif belom akan bisa berjalan selama sistem dan pondasinya belum begitu mapan, dan sayangnya untuk negara sebesar Indonesia, bisa dikatakan pondasi strukturalnya belom begitu kokoh dan mapan, dan harus dicari kembali sistem dan struktur seperti apa yang bisa cocok dan bertahan di kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali, meski sama-sama negara kepulaun, Jepang pulaunya lebih "rapat" daripada Indonesia, untuk hasil yang memuaskan kita memang butuh waktu yang panjang dan rintangan yang luas, terlebih dengan berbagai kondisi yg sudah kamu sebutkan

      Hapus
    2. Tapi anehnya pemerintah tidak lebih memfokuskan pada pengembangan SEZ/KEK padahal sudah dibuat, dan fokus tujuan sekarang lebih ke ibukota baru. Aku membayangkan ada puluhan Shenzhen yang berfokus pada industri manufaktur. Kemudian ribuan UMKM manufaktur pemroduksi mainan, cangkul dan barang-barang lainnya. Maksudku ayolah buat negeri ini jadi Lokakarya Dunia/World's Workshop sehingga kita tidak hanya cuma bisa tebang pohon dan menggali batu

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

  Jauh dari surga, beralaskan pasir   Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir   Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur   Menembus ke bawah, kakinya panjang umur Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya   Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu   Ia bertahan, sama sepertimu Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah   Namun jika kau lihat ke bawah Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah   Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan   Hari berganti pekan, terik berganti gigil Dia selalu di sana, selalu menantimu  Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

MEMANG SUDAH SAATNYA

Siapa yang bisa menyangka Kukira engkau hanya tidur sementara Inilah hari ketika aku tak sanggup Berdiri tegap menatap Tibalah masa Saat aku tak lagi bisa Memandang hujan dengan cara yang sama Menata rapi seperti yang kau pinta Melihatmu terlelap dan tetap bernafas Telah kucatat semua hal-hal terakhir yang kau tunaikan Sudah kubaca resep yang telah kau tinggalkan Ku coba memeluk erat semua kepingan Hidupku seperti tenggelam, dan aku mengambang dalam kelimpungan Mengais-ngais ranting ku coba untuk menggenggam Seperempat abad bersamamu di dunia Terasa lebih berharga daripada emas seluas benua Kasihmu berpijar dan melekat di jiwaku Ku halangi waktu dari merenggut suaramu Dan telah ku lapangkan memori agar kau abadi        

SEPEREMPAT ABAD

Seperempat abad aku hidup di alam fana Bagaikan enam jam di rumah rasanya Pantaslah kau tak izinkanku berkelana Sebab kau memang hanya sebentar saja Menjadi bagian dalam kisahku di babak pertama Sementara Ku terhuyung-huyung untuk selalu tetap Berada di jalur yang semestinya  Harus kuhabiskan bergerak ke depan Membuka cobaan yang tertutup hari esok Tanpamu Hilangnya kesempatanku, berbakti padamu Kini telah sampailah di ujung  Dimana aku hanya bisa mengingat segala tentangmu Memeluk erat menyimpan rapat Kaleng dan laci yang berisi semua Bukti-bukti abadi bahwa engkau  Di masa itu jadi matahari di kala siang Air di kala kering, dan nafas di kala aku sesak terhimpit Terpujilah engkau