Aku terbangun
Sudah pagi dan pucat pasi
Otakku berkabut setengah terisi
Batinku meracau, sesak nan kacau
Ku putar keran ke kanan dan ke kiri
Sekedip terlihat keruh
Tidak, yang keruh hanya jiwaku
Mematung bercermin, bola mataku berotasi
Cermin bantu aku agar bisa tersenyum
Ku basuh wajah kusamku, kusut meluntur
Paduan sempurna, air yang mengucur dan melamun
Apa ada yang lebih sia-sia daripada itu
Tepat sekali, berharap padamu itu percuma saja
Kami berdua, terhenti di suatu titik
Segenggam air kulempar padamu cerminku sayang
Aku tahu, Songkran telah usai.
Aku hanya ingin melihat, refleksiku yang terdistorsi
Tak perlu palu, cukup hatiku saja berkeping
Berduaan dengan wastafel
Tanpa sungkan aku meludahimu setiap saat
Dan kau tetap membisu
Komentar
Posting Komentar