Langsung ke konten utama

Muntahan Residu Kehidupan

Muntahan


1.      Mari kita mulai dengan keluhan

2.      Kutumpahkan segenap keresahan

3.      Dalam bentuk tulisan

4.      Agar aku bisa bertahan

5.      Dari gempuran dunia yang sangat edan

1.      Aku berpikir

2.      Berusaha mengukir

3.      Sesuatu yang sejatinya akan tersingkir

4.      Aku berharap aku tak diusir

5.      Sebab aku agak pandir

1.      Apakah suatu saat aku pasti gembira

2.      Hari demi hari terbungkam sebuah suara

3.      Yang melengking dan tragisnya tak terkira

4.      Apakah besok aku bisa berpura-pura

5.      Menjadi bahagia tiada tara

1.      Menyesap sepuntung rasa kecewa

2.      Menghisapnya untuk kesekian kalinya

3.      Mungkin ini pertanda agar tak jumawa

4.      Dan agar selalu merasa tak berpunya

1.      Kuputar lagu sedih berulang-ulang

2.      Lagu yang mewakilkan mulut untuk mengerang

3.      Lidah sunyi seakan pita suara menghilang

4.      Kupikir ini cukup mengganjal batin yang malang

1.      Memaksa diri agar semangat

2.      Menempa diri agar kuat

3.      Terbentur, terbentur, terbentur, tersengat

4.      Oleh lebah yang bernama dunia maha bangsat

1.      Seringkali kita terkecoh

2.      Sehingga kita berbuat ceroboh

3.      Lantas semua tangan menunjuk siapa yang bodoh

4.      Lalu melupakan itu, dan tak sadar itu telah roboh

1.      Kerap kali bosan menerpa

2.      Seperti pagi yang rajin menyapa

3.      Hadir mengisi kehampaan yang alpa

4.      Bagai semut yang dipaksa bertapa

1.      Kepalaku pening

2.      Direpotkan oleh hal yang tak penting

3.      Ia datang dengan tangan menuding

4.      Tubuh tergeletak bagai dilempar lembing

5.      Harapan memudar mengering

6.      Namun waktu tak berhenti menggelinding

coba klik muntahan dan anda akan melihat video orang muntah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

  Jauh dari surga, beralaskan pasir   Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir   Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur   Menembus ke bawah, kakinya panjang umur Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya   Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu   Ia bertahan, sama sepertimu Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah   Namun jika kau lihat ke bawah Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah   Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan   Hari berganti pekan, terik berganti gigil Dia selalu di sana, selalu menantimu  Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

MEMANG SUDAH SAATNYA

Siapa yang bisa menyangka Kukira engkau hanya tidur sementara Inilah hari ketika aku tak sanggup Berdiri tegap menatap Tibalah masa Saat aku tak lagi bisa Memandang hujan dengan cara yang sama Menata rapi seperti yang kau pinta Melihatmu terlelap dan tetap bernafas Telah kucatat semua hal-hal terakhir yang kau tunaikan Sudah kubaca resep yang telah kau tinggalkan Ku coba memeluk erat semua kepingan Hidupku seperti tenggelam, dan aku mengambang dalam kelimpungan Mengais-ngais ranting ku coba untuk menggenggam Seperempat abad bersamamu di dunia Terasa lebih berharga daripada emas seluas benua Kasihmu berpijar dan melekat di jiwaku Ku halangi waktu dari merenggut suaramu Dan telah ku lapangkan memori agar kau abadi        

SEPEREMPAT ABAD

Seperempat abad aku hidup di alam fana Bagaikan enam jam di rumah rasanya Pantaslah kau tak izinkanku berkelana Sebab kau memang hanya sebentar saja Menjadi bagian dalam kisahku di babak pertama Sementara Ku terhuyung-huyung untuk selalu tetap Berada di jalur yang semestinya  Harus kuhabiskan bergerak ke depan Membuka cobaan yang tertutup hari esok Tanpamu Hilangnya kesempatanku, berbakti padamu Kini telah sampailah di ujung  Dimana aku hanya bisa mengingat segala tentangmu Memeluk erat menyimpan rapat Kaleng dan laci yang berisi semua Bukti-bukti abadi bahwa engkau  Di masa itu jadi matahari di kala siang Air di kala kering, dan nafas di kala aku sesak terhimpit Terpujilah engkau