Langsung ke konten utama

Pasien Depresi

 5 Rumah Sakit Jiwa Paling Mencekam dan Kisah-Kisah Kelam yang Pernah  Terjadi di Dalamnya - Boombastis

1.      Jiwaku terlalu rapuh

2.      Jiwaku mulai mengeluh

3.      Tak ada tempat berteduh

4.      Lalu jiwa ini rentah rubuh

5.      Terlintas di pikiran mencabut nyawa dari tubuh

6.      “Jangan sekarangggg”

1.      Aku ingin bertanya

2.      Pantaskah aku hidup lebih lama

3.      Dulu aku dijejali derita

4.      Kini aku meronta-ronta

5.      Besok mungkin aku akan jadi gila

6.      “Jangan sekarangggg”

1.      Pernahkah kau dilanda letih

2.      Ketika merangkak menuju cahaya putih

3.      Terjatuh dan terhempas lalu jadi buih

4.      Sungguh itu terasa pedih

5.      Acapkali batinku bersedih

6.      “Bertahaannllaahh”

1.      Aku diam tetap diam

2.      Sembunyi di balik malam

3.      Sebab masa laluku cukup kelam

4.      Aku bersandar di pangkal pohon gayam

5.      Mungkin masa depanku suram

6.      Setelah melihat semua makin runyam

7.      Di bawah sorot lampu temaram

8.      Aku ingin mati tenggelam

9.      Kapal manakah yang akan karam

10.  Aku mengasah pisau agar tajam

11.  Agar nanti aku bisa menghunjam

12.  Kau tak seburuk ituuu”

1.      Dalam hening aku termenung

2.      Keengganan membuatku terkurung

3.      Tak mampu berontak selalu terpasung

4.      Cermin berkata aku terlihat murung

5.      Ia seakan meramal aku akan pernah beruntung

6.      Lalu aku bergegas mengambil tali untuk digantung

7.      “Jangan lakukan ituuu”

1.      Aku terjebak di sebuah ruangan

2.      Terpajang kesedihan yang tak terhindarkan

3.      Kini aku hanya bisa berangan-angan

4.      Sebatas merangkai khayalan

5.      Tapi tak sanggup menelan kenyataan

6.      “Kau paasstii biisaa”

1.      Entah mengapa aku masih ragu

2.      Lama bersemayam di ranah kelabu

3.      Yang ditandai dengan peluh dan sendu

4.      Dihujani rasa bersalah dan diselingi pilu

5.      Karena tak sadar aku membuang banyak waktu

6.      hingga ku ingin dikutuk menjadi batu

7.      “Itu bukan salahmuuu”

1.      Hidupku terpuruk dan gagal bangkit

2.      Luka ini menggores hati menyayat kulit

3.      Beragam sengsara menghimpit

4.      Semua yang kusentuh terasa pahit

5.      Sehingga sukmaku terbelit

6.      Seakan semua akan menjepit

7.      Sehingga nafasku terbelit

8.      “Tetaplaahh teenaanggg”

1.      Aku ingin menelan racun tikus

2.      Atau memotong nadi hingga terputus

3.      Atau menenggak larutan sabun yang direbus

4.      Tak sempurna sebelum dicampur spirtus

5.      Ku biarkan diriku terkikis dan tergerus

6.      Hingga menjadi mayat yang tak terurus

7.      “Kau mampu melewati ini semuaa”

1.      Aku pergi ke penangkaran terbesar

2.      Di sana aku meloncati pagar

3.      Terjatuh dan terkapar

4.      Ku sedekahkan jasad ini untuk buaya yang lapar

5.      Setidaknya aku merasa bermanfaat meski itu tak benar

6.      “Kau pasti takkan menyeraahhh”

1.      Segalanya berujung gagal

2.      Karena otakku bebal

3.      Karena kejenuhanku semakin menebal

4.      Itulah yang membuatku kesal

5.      Makian yang terngiang, otot yang pegal-pegal

6.      Kesedihan ini menyumbat lalu menggumpal

7.      Setiap upaya yang terpental

8.      Ditutup dengan raut menyesal

9.      Kau masih bisa bertahan

10.  Dengan sedikit kekuatan

11.  Yang menyala menerjang ketakutan

12.  Tatap ke arah masa depan

13.  Jangan biarkan impianmu jatuh berserakan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

  Jauh dari surga, beralaskan pasir   Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir   Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur   Menembus ke bawah, kakinya panjang umur Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya   Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu   Ia bertahan, sama sepertimu Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah   Namun jika kau lihat ke bawah Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah   Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan   Hari berganti pekan, terik berganti gigil Dia selalu di sana, selalu menantimu  Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

MEMANG SUDAH SAATNYA

Siapa yang bisa menyangka Kukira engkau hanya tidur sementara Inilah hari ketika aku tak sanggup Berdiri tegap menatap Tibalah masa Saat aku tak lagi bisa Memandang hujan dengan cara yang sama Menata rapi seperti yang kau pinta Melihatmu terlelap dan tetap bernafas Telah kucatat semua hal-hal terakhir yang kau tunaikan Sudah kubaca resep yang telah kau tinggalkan Ku coba memeluk erat semua kepingan Hidupku seperti tenggelam, dan aku mengambang dalam kelimpungan Mengais-ngais ranting ku coba untuk menggenggam Seperempat abad bersamamu di dunia Terasa lebih berharga daripada emas seluas benua Kasihmu berpijar dan melekat di jiwaku Ku halangi waktu dari merenggut suaramu Dan telah ku lapangkan memori agar kau abadi        

SEPEREMPAT ABAD

Seperempat abad aku hidup di alam fana Bagaikan enam jam di rumah rasanya Pantaslah kau tak izinkanku berkelana Sebab kau memang hanya sebentar saja Menjadi bagian dalam kisahku di babak pertama Sementara Ku terhuyung-huyung untuk selalu tetap Berada di jalur yang semestinya  Harus kuhabiskan bergerak ke depan Membuka cobaan yang tertutup hari esok Tanpamu Hilangnya kesempatanku, berbakti padamu Kini telah sampailah di ujung  Dimana aku hanya bisa mengingat segala tentangmu Memeluk erat menyimpan rapat Kaleng dan laci yang berisi semua Bukti-bukti abadi bahwa engkau  Di masa itu jadi matahari di kala siang Air di kala kering, dan nafas di kala aku sesak terhimpit Terpujilah engkau