Langsung ke konten utama

Kalau Aku Punya Mesin Waktu

Sejak kecil aku selalu berkhayal kalau bisa kembali ke masa lalu menggunakan mesin waktu. Aku juga pernah melihat film yang berkaitan dengan mesin seperti orang yang kembali ke masa lampau atau orang dari masa lalu yang datang ke masa kini. Di samping itu, aku telah melihat banyak tragedi dalam sejarah peradaban manusia jadi seandainya aku bisa hadir di sana dan memberi informasi berharga kepada mereka dan sedikit memberi perubahan yang signifikan hahah. Oke mari kita mulai

 

Aku lebih suka menuju ke masa akhir kejayaan Majapahit dimana di daerah pantai utara Jawa sudah ada saudagar muslim yang bermukim. Aku akan menjadi seorang navigator yang menggalang dukungan agar bisa berlayar ke benua Australia. Sebelum berangkat menuju ke masa lalu aku membawa bekal ilmu sebanyak-banyak demi keselamatan dan keberuntungan haha. Ada lagi misi lain yang tidak kalah penting yaitu menyebarkan pesan nubuat ke raja-raja mengenai kelicikan orang Eropa.

   

Begitu sampai di benua Australia, aku bergegas untuk membangun sebuah desa kecil, beranak-pinak dan menjalin hubungan baik dengan kaum Aborigin. Begitu semua sukses maka dengan sendirinya mungkin beberapa orang Jawa dan lainnya berduyun-duyun ke Australia. Pada 1 abad pertama kami memusatkan pada 3 titik saja, dan melarang pendatang untuk berpindah ke selatan karena ya tau sendiri kan iklimnya cukup brutal untuk makhluk tropis (panas cuyy).

 

 

 

Ini dia kesultanan “kecil” impianku hahahahah.

Aku juga ingin melakukan mempererat hubungan diplomatic dengan negeri-negeri di timur tengah, yah setidaknya untuk mencari aliansi atau mencari “sandaran”.

 

 

Yah cukup sekian khayalanku, nantikan bacotan absurd selanjutnyaaa.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Kharos, Kharos Hidup (Welwitschia mirabilis)

  Jauh dari surga, beralaskan pasir   Daunnya terkoyak oleh angin yang berdesir   Purnama berganti sabit, ia selalu menjulur   Menembus ke bawah, kakinya panjang umur Walau tiada tetes hujan, kabut dan embun yang akan memeluknya   Meski kau sendirian, lega dan sukacita akan mendekapmu   Ia bertahan, sama sepertimu Berdiri enggan musnah, tabah sepanjang masa Terlihat bersimpuh, tengkurap menyerah   Namun jika kau lihat ke bawah Akar takkan takluk dengan mudah, menghujam ke tanah   Mengais serapan, menopang harapan, dari segala terpaan   Hari berganti pekan, terik berganti gigil Dia selalu di sana, selalu menantimu  Sebab ia yakin, senyum selalu tersumber darimu

MEMANG SUDAH SAATNYA

Siapa yang bisa menyangka Kukira engkau hanya tidur sementara Inilah hari ketika aku tak sanggup Berdiri tegap menatap Tibalah masa Saat aku tak lagi bisa Memandang hujan dengan cara yang sama Menata rapi seperti yang kau pinta Melihatmu terlelap dan tetap bernafas Telah kucatat semua hal-hal terakhir yang kau tunaikan Sudah kubaca resep yang telah kau tinggalkan Ku coba memeluk erat semua kepingan Hidupku seperti tenggelam, dan aku mengambang dalam kelimpungan Mengais-ngais ranting ku coba untuk menggenggam Seperempat abad bersamamu di dunia Terasa lebih berharga daripada emas seluas benua Kasihmu berpijar dan melekat di jiwaku Ku halangi waktu dari merenggut suaramu Dan telah ku lapangkan memori agar kau abadi        

SEPEREMPAT ABAD

Seperempat abad aku hidup di alam fana Bagaikan enam jam di rumah rasanya Pantaslah kau tak izinkanku berkelana Sebab kau memang hanya sebentar saja Menjadi bagian dalam kisahku di babak pertama Sementara Ku terhuyung-huyung untuk selalu tetap Berada di jalur yang semestinya  Harus kuhabiskan bergerak ke depan Membuka cobaan yang tertutup hari esok Tanpamu Hilangnya kesempatanku, berbakti padamu Kini telah sampailah di ujung  Dimana aku hanya bisa mengingat segala tentangmu Memeluk erat menyimpan rapat Kaleng dan laci yang berisi semua Bukti-bukti abadi bahwa engkau  Di masa itu jadi matahari di kala siang Air di kala kering, dan nafas di kala aku sesak terhimpit Terpujilah engkau