Seusai senja terlukis
Aku menyeretnya keluar
Percikan gerimis
Seakan meludahi tangan yang memar
Keluar dari gang mulutku merapal keluhan
Mengayuh di antara dua trotoar
Lamat-lamat bibirku mengucap langgam
Secepat aku mengayuh sekeras aku bernyanyi
Kutinggalkan mantel di rumah
Siulan angin meremas tulangku
Tiada seorangpun yang bisa kujamah
Aku hanya sanggup untuk menunggu
Naik turun pahaku, punggung yang membungkuk
Ku bayangkan kau di belakang
Merengkuh dan melihat leher kusam
Aku mulai berteriak, tandanya telah sunyi
Tersengal, waktunya berhenti
Mengerem, disambung dengan menjagang
Aku berdiri, memukuli sadel sepenuh hati
Cukup, aku harus kembali,
Kupancal itu sepeda sampai mati
Komentar
Posting Komentar