Dalam kepalaku, setangkai syaraf telah wafat
Aku bangkit tapi uratku seperti diralat
Mengalir darah dingin
Tanpa dipompa jantung
Hinggap di leherku, injeksi dari gusi berdarah
Kalbuku yang dihunus belati amarah
Menyeret kaki dan menggoyang rahang
Memerah membiru melapisi kulitku
Aku telah mati, tapi serasa ada yang hidup
Jejak itulah yang terpancar, mengisi ruang sempit di benakku
Cuplikan senyummu yang terbungkus
Ku susun bangku setinggi pintu
Dan kau merobohkannya dengan sejentik
Mungkinkah aku tega memenggal lehermu
Sesuatu yang kunanti untuk kuraih
Berilah kesempatan, walau itu mustahil
Apakah ini setimpal, apa kau sudah muak?
Aku bisa bertahan, berapa lama yang kau bisa?
Komentar
Posting Komentar